Selasa, 03 April 2012

API DAN KEBAKARAN


PENDAHULUAN

Kebakaran senantiasa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, baik menyangkut kerusakan harta benda, kerugian materi, gangguan terhadap kelestarian lingkungan, terhentinya proses produksi barang serta jasa, serta bahaya terhadap keselamatan jiwa manusia. Kebakaran yang terjadi di permukiman padat penduduk bisa menimbulkan akibat-akibat sosial, ekonomi dan psikologi yang luas. Kebakaran di gedung tinggi sering berakibat fatal akibat sulitnya upaya pemadaman dari luar gedung. Kebakaran hutan menimbulkan awan asap yang menimbulkan gangguan pernapasan, dan menyulitkan pendaratan pesawat. Kebakaran di lingkungan industri dapat mengakibatkan stagnasi usaha dan kerugian investasi.

API DAN ASAL USULNYA

Kecil menjadi kawan, besar menjadi lawan. Ungkapan yang sering kita dengar tersebut menggambarkan bahwa api mempunyai manfaat yang banyak tetapi juga dapat mendatangkan bahaya. Api, merupakan salah satu pendukung kehidupan manusia. Sejak zaman purbakala api sudah digunakan. Api ditemukan dengan cara membenturkan atau menggesekkan dua buah batu sampai muncul percikan api atau dengan menggosokan sebuah kayu kering dengan kayu kering lain. Api dapat dibuat jika ada penyala (bahan yang mudah menyala jika terkena api), pemancing dan bahan bakar. Contoh penyala adalah kayu kering yang diserut, rumput kering, pakis mati, lumut kering, jamur kering jerami, serbuk gergaji, dedaunan kering dan bagian yang mati atau membusuk dari batang pohon, serabut tumbuhan yang mengering, daun palm atau kelapa yang mati, mesiu, kapas kain kasa, serta bagian luar bambu yang di serut.
Pemancingnya adalah ranting kecil atau potongan kayu kecil, kayu yang dipisah-pisahkan dan batu yang kering. Dan yang terakhir, agar api menyala lama diperlukan bahan bakar seperti kayu kering yang masih berdiri dan cabang yang sudah mati dan kering, bagian dalam yang kering dari batang pohon tumbang, dahan atau cabangnya,  rumput kering yang dibelitkan jadi satu, kotoran hewan yang sudah mengering, batubara, dan serpih mengandung minyak. Tetapi saat ini, dengan kemajuan pemikiran manusia, api mudah ditemui di seluruh dan sudah dibuat dalam berbagai macam bentuk, seperti korek api, kompor gas dan masih banyak lagi.

MANFAAT API

Pada kehidupan sehari-hari, api sering dimanfaatkan untuk memasak. Selain itu api berguna untuk membuat api unggun yang bisa menghangatkan tubuh kita pada waktu cuaca dingin. Api digunakan memanaskan Turbin untuk menghasilkan Listrik, Ada juga sebagian orang yang menggunakan korek api untuk menyalakan rokoknya, padahal rokok bisa merugikan diri kita sendiri. Betul kan? Lalu apa lagi ya manfaat api? Oh iya, api sering digunakan untuk membakar sampah, padahal jika kita membakar sampah akan menimbulkan polusi udara. Karenanya, kalau bisa kita hindari membakar sampah ditempat yang padat penduduknya karena selain mengakibatkan polusi udara juga bisa menyebabkan bahaya kebakaran.

PENGERTIAN API DAN KEBAKARAN

Api adalah Reaksi persenyawaan antara suatu bahan bakar, panas dengan oksigen yang umumnya menghasilkan panas dan nyala, sebagaimana ditunjukkan dalam persamaan berikut:

Bahan bakar + O2 (di udara) + panas =  cahaya + kalor = Api

Kebakaran adalah Api yang tidak terkendali atau tidak dikehendaki serta merugikan.

Disini api tidak dilihat dari besar atau kecilnya api tersebut, jika memang api itu kecil akan tetapi tidak terkendali serta merugikan maka itu juga dapat di golongkan kebakaran. Dan semantara itu jika api tersebut besar namun itu dikehendaki dan dapat dikendalikan maka ini tidak dapat digolongkan dalam kebakaran. Contohnya seperti api yang ada ditempat peleburan baja di Krakatau steel Cilegon.

UNSUR-UNSUR API

Seperti pada pengertian api diatas bahwa api terdiri dari beberapa unsur yaitu bahan bakar(fuel), oksigen (oxygen) dan panas (heat), ini biasanya digambarkan dalam bentuk segitiga api (triangle of fire), dapat kita lihat bahwa proses terjadinya api bila bahan bakar terkena atau menerima sejumlah panas terjadi penyalaan atau penyulutan awal, dan adanya oksigen yang cukup.


I. OKSIGEN
Suatu gas yang berasal dari udara sekeliling yang dibutuhkan untuk berlangsungnya suatu proses pembakaran, didalam udara bebas mengandung kurang lebih 21% Oksigen. Pada kadar oksigen 21% manusia dapat hidup normal begitu pula terhadap api yang akan semakin membesar. Pada kadar oksigen 18% api masih dapat menyala walau agak mengecil, akan tetapi pada posisi ini manusia sudah dalam keadaan pingsan atau lemas. Pada kadar oksigen 15% api sudah padam, sementara pada posisi ini manusia sudah tidak dapat hidup atau gagal pernafasan. Maka dapat disimpulkan bahwa api dapat hidup jika minimal kadar osigen yang ada di udara 16%. Pemadamannya dapat dilakukan dengan memindahkan unsur oksigen melalui pembatasan pasokan udara yang biasa disebut “Penutupan atau Pengisolasian”

II. BAHAN BAKAR
Adalah setiap bahan atau benda yang dapat terbakar, yaitu :
Padat diantaranya kayu, kertas, karet, plastic, majun, kapas dan lain-lain;
Cair diantaranya bensin, solar, minyak tanah, oli, gemuk, spirtus, tiner dan lain-lain;
Gas diantaranya LPG, LNG, karbit dan lain-lain
Bahan-bahan kimia, dan sebagainya.
Proses pemadamannya dapat dilakukan dengan memindahkan unsure bahan bakar melalui pembatasan jumlah bahan bakar yang biasa disebut “Pembatasan Bahan atau memindahkan bahan bakar”

III. PANAS
Suatu bentuk energy atau daya yang dapat dihasilkan dari energi elektron (listrik statis atau dinamis), sinar matahari, reaksi kimia dan perubahan kimia, kerja mekanik, dekomposisi bahan organic oleh jasad renik dan radiasi matahari. Sumber-sumber panas juga terdapat pada bunga api listrik, api terbuka, gesekan, benturan, busur api las, listrik statis, faktor alam dan lain-lain. Panas dapat berpindah-pindah dengan beberapa cara yaitu :
1. KONDUKSI yaitu perpindahan panas oleh aktifitas molekul dalam suatu material, tergantung konduktivitas thermal material atau panas yang dipindahkan dari satu ruang ke ruang yang lain melalui bahan penghantar panas. Cara ini terbagi dua yaitu konduksi vertical dan konduksi horizontal, biasanya kalau pada bangunan bahan penghantar panasnya yaitu dari besi atau baja pada kontruksi. Nilai  konduktansi  material  akan  tergantung  dari  konduktivitas  termal, area  penampang  dari  bidang  perpindahan  dan  panjang  dari  perpindahan.  Laju perpindahan  panas  dapat  disederhanakan  sebagai  jumlah  panas  per  satuan  waktu sedangkan heat  flux merupakan  jumlah  panas per unit area  penampang  per  satuan waktu.
2. KONVEKSI yaitu perpindahan panas oleh pergerakan media, biasanya udara/gas atau Cair/liquid atau kontak nyala api langsung, Persamaan yang  digunakan pada perpindahan kalor secara  konveksi adalah:  q =h x T
Dimana  q  adalah  laju  perpindahan  kalor  per  satuan  luas  (  W/m2)  dan  T adalah  perbedaan  temperatur  antara  fluida  dan   permukaan.  Sedangkan  h  adalah koefisien perpindahan kalor konvektif dari fluida.
3. RADIASI yaitu perpindahan panas secara langsung dan linier dari permukaan  panas  ke permukaan  yang lebih  dingin  menggunakan  gelombang  elektromagnetik meskipun  tanpa  media  perantara seperti cahaya matahari atau gelombang panas yang bergerak melalui daerah yang terbakar menuju permukaan benda-benda dihadapanya.
Hukum  Stefan-Boltzmann  menyatakan  bahwa emisi  dari  radiasi  per  satuan  luas  dari  black  surface  berbanding  langsung  dengan pangkat empat dari temperatur absolutnya. Persamaannya adalah sebagai berikut: q = es x T4
Dimana  q  merupakan  emsisi  radiasi  per  satuan  luas  area;    adalah  factor koreksi  dari  emisivitas  dari  permukaan  sedangkan    adalah  konstanta  Stefan-Boltzmann yang besarnya sama dengan 5.67 x 10-12 W/(cm2.K4).
Energy panas tidak dapat diukur secara langsung, Suhunya hanya mengukur derajat panas suatu benda, bukan jumlah panas didalam benda tersebut. Pemadamannya dapat dilakukan dengan memindahkan panas atau meniadakan sumber panas yang biasa disebut “Pendinginan”.


JENIS ATAU KLASIFIKASI KEBAKARAN

Kebakaran dibagi menjadi beberapa jenis atau kelas berdasarkan dari jenis bahan bakarnya  sesuai dengan Klasifikasi dari N.F.P.A( NASIONAL FIRE PROTECTION ASSOCIASION ) dan berlaku di Indonesia sesuai PER.MEN: NO/ PER/04/MEN/1980 TANGGAL 14 APRIL 1980 MEN/TEN KERJA & TRANS menjadi :
1. Kebakaran KELAS A adalah kebakaran bahan biasa atau padat kecuali logam yang mudah terbakar seperti kertas, kayu, pakaian, karet, kertas,plastik dan lain-lain.
Jika terjadi kebakaran kelas A maka dapat digunakan metode pemadaman dengan cara :
·         Pendinginan dengan air, pasir,karung goni yang dibasahi.
·         Pemadaman dengan air atau Apar busa kelas A dan racun api tepung kimia kering.
2. Kebakaran KELAS B adalah kebakaran bahan cairan dan gas yang mudah terbakar seperti minyak, bensin, solar, gas LPG,spritus,alkohol, LNG dan lain-lain.
Jika terjadi kebakaran kelas B maka metode pemadaman yang dapat digunakan adalah :
·         Penutupan atau pelapisan atau penyelimutan
·         Pemindahan bahan bakar
·         Penurunan temperature.
·         Apar atau racun api tepung kimia kering
·         Dilarang memakai air untuk jenis ini karena berat jenis air lebih berat dari pada berat jenis bahan di atas sehingga bila kita menggunakan air maka kebakaran akan melebar kemana-mana
3. Kebakaran KELAS C adalah kebakaran yang diakibatakan dari kebocoran listrik, konsleting termasuk peralatan bertenaga listrik.
Jika terjadi kebakaran kelas C metode pemadaman yang dapat digunakan adalah :
·         Pemadaman menggunakan bahan yang non konduksi listrik
·         Putuskan arus listrik dan padamkan seperti pemadaman kebakaran kelas A atau kelas B.
4. Kebakaran KELAS D adalah kebakaran pada logam seperti seng, magnesium, serbuk alumunium dan lain-lain.
Jika terjadi maka metode pemadamannya adalah :
·         Pelapisan atau penyelimutan dengan bahan pemadam khusus terutama bubuk kering tertentu.

PENYEBAB API ATAU KEBAKARAN

Api atau kebakaran dapat disebabkan oleh dua factor yaitu :
1. Faktor tidak disengaja penyebab kebakarannya tidak melibatkan tindakan manusia secara sengaja untuk membakar atau memperluas kebakaran.
Contoh. Seseorang tanpa sengaja membuang puntung rokok yang masih hidup dan terkena bahan yang gampang terbakar dan akhirnya terjadilah kebakaran. Atau peristiwa alam seperti Radiasi sinar matahari, sambaran petir, letusan gunung berapi dan sebagainya.
2. Faktor disengaja adalah kebakaran yang diatur secara sengaja didalam kondisi atau keadaan tertentu dimana orang tersebut mengetahui bahwa api tidak boleh dinyalakan. Atau juga prilaku sengaja membakar untuk menadapatkan keuntungan seperti sabotase, menghilangkan jejak, klaim asuransi dan lain-lain, ini biasanya disebut Arson Fire. Tanda-tandanya biasanya adanya pemicu, penghuni yang cidera dan sebagainya.

TAHAP PENGEMBANGAN API

Kebakaran pada ruang tertutup memiliki karakteristik seperti terbatasnya jumlah oksigen dan gas hasil kebakaran terjebak dan berkumpul didalam satu ruangan. Tingkat kerusakan kebakaran ditentukan oleh jumlah material yang terbakar dan kecepatan bakarnya serta jumlah dari bahan mudah terbakar (combustible material) dalam suatu lingkungan dan dalam bangunan normal ini biasanya yang disebut dengan beban kebakaran (fire load).
1. TAHAP AWAL
Pada tahap ini kebakaran dini yang dimulai oleh terjadinya penyalaan;
Kebakaran terbatas hanya pada benda yang tersulut atau penyalaan;
Asap dan gas hasil pembakaran mulai dihasilkan dan terkumpul dilangit-langit ruangan;
Perubahan dari tahap ini ketahap selanjutnya akan terjadi Rollover.
Pada tahap awal temperature ruangan sedikit diatas 38 derjat celcius, gas panas mulai naik dan udara ruangan berkisar 20% oksigen. Rollover adalah suatu keadaan dimana uap yang sangat panas menyala dan kobaran muka api atau lidah api melintasi langit-langit.

2. TAHAP KEBAKARAN MANTAP
Pada tahap ini penyalaan bebas oksigen dan bahan bakar didalam bangunan atau ruangan tersedia dalam jumlah yang cukup, sehingga api dapat menyala bebas dan membakar seluruh ruangan;
Dan terjadilah flashover, ini adalah kejadian dimana seisi ruangan memiliki titik nyala yang hampir sama dan akan menyala bersamaan.
Pada tahap kebakaran mantap temperature ruangan berkisar 700 derajat celcius, panas berkumpul pada bagian atas ruangan, suplai oksigen tinggi dan keterlibatan api penuh. Flashover dapat juga disebut penyalaan simultan terhadap semua benda yang mudah menyala didalam ruangan dan tingkat panas yang tinggi dari lantai hingga langit-langit.

3. TAHAP PANAS MENURUN/MENGECIL
Pada tahap ini api menurun secara perlahan karena menipisnya atau dipindahkanya persediaan bahan bakar atau oksigen;
Apabila tersedia bahan bakar baru akan membuat tahap pengembangan awal yang kedua (api menyala kembali).
Pada tahap panas menyurut atau mengecil temperature ruangan terus meninggi, tingkat karbon monoksida dan karbon tinggi dan diruangan atau didalam asap sangat tebal serta oksigen dibawah 15%. Pada keadaan ini jika ada kesempatan udara masuk maka akan terjadi backdraft. Backdraft adalah masuknya oksigen menyebabkan kobaran api disertai ledakan dan api kembali ketahap awal dan mantap.

KONSEP PENGAMANAN BAHAYA KEBAKARAN

Berdasarkan pemahaman karakteristik kebakaran pada bangunan yang umumnya CELLULOSIC FIRE maka pengamanan terhadap kebakaran mencakup hal-hal sebagai berikut:
1. Pengendalian lewat perancangan bangunan yang diarahkan pada upaya minimasi timbulnya kebakaran dan intensitas terjadinya kebakaran, yang menyangkut minimasi beban api, rancangan sistem ventilasi, sistem kontrol asap, penerapan sistem kompartemenisasi dll yang dikenal sebagai sistem proteksi pasif. 
2.  Pengendalian lewat perancangan sistem supresi kebakaran untuk meminimasi dampak terjadinya kebakaran, melalui rancangan pemasangan sistem deteksi & alarm kebakaran, sistem pemadam basis air (sprinkler, slang kebakaran, hose reel), sistem pemadam basis kimia (apar, pemadam khusus) dan sarana pendukungnya  (disebut sistem proteksi aktif).
3.  Pengendalian lewat tata kelola bangunan yang meng-antisipasi terjadinya bahaya kebakaran didasarkan pada analisis potensi bahaya kebakaran, analisis resiko dan penaksiran bahaya kebakaran (fire hazard assessment) sesuai tahap-tahap pertumbuhan kebakaran dalam ruangan. Tata kelola ini sering disebut sebagai Fire Safety Management yang mencakup kondisi sebelum, pada saat dan setelah kejadian kebakaran.

PERALATAN PEMADAM KEBAKARAN

1. APAR / Fire Extinguishers / Racun Api
portabel
Adalah Alat Pemadam Api Portable yang dilengkapi dengan Alat Pengukur Tekanan (Pressure Gauge) yang setiap saat dapat menunjukan adanya tekanan, sehingga memudahkan pengontrolan efektifitas kinerja tabung. Peralatan ini merupakan peralatan reaksi cepat yang multi guna karena dapat dipakai untuk jenis kebakaran A,B dan C. Peralatan ini mempunyai berbagai ukuran beratnya, sehingga dapat ditempatkan sesuai dengan besar-kecilnya resiko kebakaran yang mungkin timbul dari daerah tersebut, misalnya tempat penimbunan bahan bakar terasa tidak rasional bila di situ kita tempatkan racun api dengan ukuran 1,2 Kg dengan jumlah satu tabung. Bahan yang ada dalam tabung pemadam api tersebut ada yang dari bahan kinia kering, foam / busa dan CO2, untuk Halon tidak diperkenankan dipakai di Indonesia.

2. Hydran
hydrant
Fungsi utama hydrant adalah sebagai salah satu sumber air apabila terjadi kebakaran, dan tahukah anda bahwa di negara-negara maju ada standar pewarnaan dan tanda-tanda khusus untuk setiap sistem hydrant sedangkan di negara–negara dunia ketiga hal tersebut belum lazim.

Ada 3 jenis hydran, yaitu hydran gedung, hydran halaman dan hydran kota, sesuai namanya hydran gedung ditempatkan dalam gedung, untuk hydran halaman ditempatkan di halaman, sedangkan hydran kota biasanya ditempatkan pada beberapa titik yang memungkinkan Unit Pemadam Kebakaran suatu kota mengambil cadangan air.
3. Detektor Asap / Smoke Detector
Peralatan yang memungkinkan secara otomatis akan memberitahukan kepada setiap orang apabila ada asap pada suatu daerah maka alat ini akan berbunyi, khusus untuk pemakaian dalam gedung.

4. Fire Alarm
Peralatan yang dipergunakan untuk memberitahukan kepada setiap orang akan adanya bahaya kebakaran pada suatu tempat, Fire Alarm dipasang untuk mendeteksi kebakaran seawal mungkin, sehingga tindakan pengamanan yang diperlukan dapat segera dilakukan
Alarm kebakaran akan berbunyi bilamana:
·         Ada aktivasi manual alarm (manual break glass atau manual call point.
·         Ada aktivasi dari detektor panas maupun asap.
·         Ada aktivasi dari panel/control room
Peringatan Tahap Pertama (Alarm Lantai)
Merupakan tanda bekerjanya sistem dan nampak pada:
·         Panel alarm lantai,
·         Panel alarm utama
·         Pemberitahuan untuk siaga bagi seluruh karyawan/umum (public address) dengan dua tahap teks.
·         Pengecekan ke lokasi
·         Pemberitahuan hasil: terjadi alarm palsu atau kebakaran
Peringatan Tahap Kedua (Alarm Gedung)
Merupakan tanda dimulainya tindakan evakuasi, setelah memperoleh konfirmasi akan kondisi kebakaran yang terjadi. Perberlakuan evakuasi harus melalui sistem pemberitahuan umum

5. Sprinkler (thermatic system)
protetor
Adalah alat pemadam api otomatis. System yang terpasang secara modul air di atas plafon dan jumlah modul terpasang disesuaikan dengan kebutuhan volume ruangan yang akan dilindungi. Sistim pemadam otomatis ini akan bekerja bila ada pemanasan pada suatu suhu tertentu pada daerah di mana ada sprinkler tersebut atau asap/awal nyala api yang terdeteksi oleh pengindera elektronik (sensor). Oleh karenanya bila dipasang beberapa unit dalam satu ruangan akan bekerja secara serentak karena ujung nozzle/sprinkler alat ini dilengkapi dengan actuator yang bekerja secara elektronik. Alat ini juga berfungsi sebagai Thermatic artinya bila terjadi kegagalan fungsi elektonik tetap bekerja akibat panas pada temperatur ± 68°C.
 6. Fire Detec
tek1
FireDeTec adalah sebuah alat pemadam kebakaran otomatis yang mencari sumber api dan memadamkan sumbernya melalui sebuah selang penyalur sekaligus bertindak sebagai detektor api yang fleksibel. Selang ini terbuat dari bahan Polymer khusus untuk melacak sumber api dan penyalur gas yang unik. FireDeTec tidak tergantung pendeteksian api pada satu titik saja tetapi disepanjang selang fleksibel. Sistem pemadaman semacam ini bisa digunakan secara tersendiri atau dapat juga sepenuhnya dikendalikan dengan kombinasi sistem alarm dan pemutus arus listrik dari peralatan yang dilindungi

7. Trolley
trolley b
Adalah Alat Pemadam Api Beroda yang dilengkapi dengan Regulator untuk mengatur tekanan gas CO2/N2. Alat ini biasanya ditemukan di tempat pengisian bahan bakar yang juga disebut Mobile Fire
·         Trolley catridge System
trolley
Alat pemadam ini pada umumnya sama seperti trolley yang biasa namun bedanya terdapat catridge system atau sistem penyimpanan yang berguna untuk menyimpan CO2  atau obat pemadam kebakaran
·         Portable Catridge system

PROSEDUR KEADAAN DARURAT KEBAKARAN

Keadaan darurat adalah situasi/kondisi/kejadian yang tidak normal, terjadi tiba-tiba, mengganggu kegiatan/organisasi/kumunitas dan perlu segera ditanggulangi. Keadaan darurat dapat berubah menjadi bencana (disaster) yang mengakibatkan banyak korban atau kerusakan.
Jenis Keadaan Darurat misalnya Natural hazard (Bencana Alamiah), Banjir, Kekeringan, Angin topan, Gempa, Petir, Technological Hazard (KegagalanTeknis), Pemadaman listrik, Bendungan bobol, Kebocoran nuklir, Peristiwa Kebakaran/ledakan, Kecelakaan kerja/lalulintas, Huru hara, Perang, Kerusuhan dan lain lain.
PROSEDUR BAGI SELURUH PENGHUNI / KARYAWAN GEDUNG
Saat Melihat Api
ü  TETAP TENANG JANGAN PANIK !
ü  Bunyikan alarm dengan menekan tombol manual call point, atau dengan memecahkan manual break glass dan menekan tombol alarm, sambil teriak kebakaran-kebakaran.
ü  Jika tidak terdapat  tombol tersebut atau tidak berfungsi, orang tersebut harus berteriak kebakaran kebakaran………..untuk menarik perhatian yang lainnya.
ü  Beritahu Safety Representative melalui telepon darurat atau lewat HP, Pager, dan sampaikan informasi berikut :identitas pelapor, ukuran /besarnya kebakaran, lokasi kejadian, adanya / jumlah orang terluka, jika ada, tindakan yang telah dilakukan
ü  Bila memungkinkan (jangan mengambil resiko) padamkan api dengan menggunakan alat pemadam api ringan (APAR) yang terdekat.
ü  Jika api /kebakaran tidak dapat dikuasai atau dipadamkan lakukan evakuasi segera melalui pintu keluar (EXIT)
Saat Mendengar Alarm Tahap I
ü  Kunci semua lemari dokumen / file.
ü  Berhenti memakai telepon intern & extern.
ü  Matikan semua peralatan yang menggunakan listrik.
ü  Pindahkan keberadaan benda-benda yang mudah terbakar.
ü  Selamatkan dokumen penting.
ü  Bersiaga dan siap menanti instruksi / pengumuman dari Fire Commander maupun Safety Representative.
Saat Mendengar Alarm Tahap II
ü  Berdiri di depan pintu kantor secara teratur, jangan bergerombol dan bersedia untuk menerima instruksi.
ü  Evakuasi akan dipandu oleh petugas evakuasi melalui tangga darurat terdekat menuju tempat berhimpun di luar gedung.
ü  Jangan sekali-sekali berhenti atau kembali untuk mengambil barang-barang milik pribadi yang tertinggal.
ü  Tutup semua pintu kantor yang anda tinggalkan (tapi jangan sekali-sekali mengunci pintu-pintu tersebut) Untuk mencegah  meluasnya api dan asap
Saat Evakuasi
ü  Tetap tenang, Jangan panik !
ü  Segera  menuju tangga darurat yang terdekat
ü  Berjalanlah biasa dengan cepat, JANGAN LARI
ü  Lepaskan sepatu dengan hak tinggi
ü  Janganlah membawa barang yang lebih besar  dari tas kantor/tas tangan
ü  Beritahu tamu/pelanggan yang yang kebetulan berada di ruang / lantai tersebut untuk berevakuasi bersama yang lain.
ü  Bila terjebak kepulan asap kebakaran, maka tetap menuju tangga darurat dengan ambil napas pendek-pendek, upayakan merayap atau merangkak untuk menghindari asap, jangan berbalik arah karena akan bertabrakan dengan orang-orang dibelakang anda
ü  Bila terpaksa harus menerobos kepulan asap maka tahanlah napas anda dan cepat menuju pintu darurat kebakaran.
Saat Pengungsian di Luar Gedung
ü  Pusat berkumpulnya para pengungsi ditentukan ditempat
ü  Setiap pengungsi diminta agar senantiasa tertib dan teratur
ü  Petugas evakuasi dari setiap kantor agar mencatat karyawan yang menjadi tanggung jawabnya.
ü  Apabila ada karyawan yang terluka, harap segara melapor kepada First Aider atau Petugas Medis untuk mendapatkan pengobatan
ü  Jangan kembali kedalam gedung sebelum tanda aman dimumumkan  Safety Representative.

PROSEDUR BAGI PETUGAS FIRE WARDEN DAN FIRE BRIGADE
Ketika mendengar alarm atau diberitahu mengenai kejadian kebakaran:
ü  Segera Memastikan di mana lokasi kebakaran dan Bergerak menuju lokasi kebakaran tersebut melalui jalan terdekat dengan membawa APAR.
ü  Melapor kesiagaan untuk tindakan pemadaman kepada Pemimpin Regu (Fire Warden lapor ke Safety Rep.)
ü  Melakukan tindakan pemadaman kebakaran tanpa harus membahayakan keamanan masing-masing personil.

PROSEDUR BAGI FIRE COMMANDER (1)
Pada saat menerima informasi adanya kebakaran :
ü  Menuju Ruang POSKO Taktis dan memimpin operasi pemadaman
ü  Memastikan prosedur keadaan darurat dipatuhi dan dilaksanakan
ü  Memastikan Regu Pemadam Kebakaran telah dimobilisasi untuk menindaklanjuti adanya alarm atau pemberitahuan kebakaran
ü  Memastikan bahwa pemberitahuan umum mengenai status keadaan siaga telah dilakukan
ü  Melaporkan status keadaan darurat kepada pimpinan

PROSEDUR BAGI FIRE COMMANDER (2)
ü  Melakukan komuniksi intensif dengan Safety Representative dan instansi terkait (Fire Brigade, ERT/emergency response team Area lain)
ü  Siaga untuk menerima laporan mengenai situasi dari Pemimpin Regu Pemadam Kebakaran/Fire Brigade yang berada di lokasi kebakaran dan menetapkan perlu tidaknya evakuasi total
ü  Selalu memantau mengenai status evakuasi, kondisi kebakaran, jumlah karyawan yang terjebak,
ü  Pastikan tersedianya peta, gambar bangunan, buku FEP (fire emergency plan), kunci-kunci yang diperlukan

PROSEDUR BAGI PETUGAS EVAKUASI (1)
ü  Mencari penghuni atau siapa saja, dimana pada saat terjadi kebakaran ada di lantai tersebut, terutama diruang-ruang tertutup dan memberitahu agar segera menyelamatkan diri
ü  Melacak jalan, meyakinkan jalan aman, tidak ada bahaya, hambatan ataupun jebakan pintu tertutup.
ü  Memimpin para penghuni meninggalkan, ruangan, mengatur dan memberi petunjuk tentang rute dan arus evakuasi menuju  ke tempat berkumpul (assembly point / daerah kumpul) melalui jalan dan tangya darurat.

PROSEDUR BAGI PETUGAS EVAKUASI (2)
Melaksanakan tugas evakuasi dengan berpegang pada prosedur evakuasi, antara lain
ü  Melarang berlari kencang, berjalan cepat dan tidak saling mendahului
ü  Mengingatkan agar tidak membawa barang besar dan berat serta keluar gedung untuk menuju assembly area berkumpul ditempat yg ditentukan
ü  Melarang kembali masuk kedalam bangunan sebelum diumumkan melalui alat komunikasi, bahwa keadaan telah aman.
ü  Mengadakan apel checking jumlah Penghuni guna meyakinkan bahwa tidak ada yang tertinggal di gedung/area kerja
ü  Menghitung dan mengevaluasi jumlah korban (sakit/luka, pingsan, meninggal) .

PROSEDUR BAGI TEKNISI (Electrical/Utility)
ü  Matikan peralatan pengendali listrik dan aliran gas yang bisa dikenai akibat kebakaran
ü  Pastikan bahwa peralatan pemadam kebakaran seperti misalnya Pompa dan Cadangan Air berfungsi dengan baik.
ü  Periksa daerah terbakar dan tentukan tindakan yang harus dilakukan
ü  Upayakan kelancaran sarana agar prosedur pengendalian keadaan darurat dan evakuasi berjalan baik

PROSEDUR BAGI PETUGAS KEAMANAN
Mengatur lalu lalu lintas kendaraan yang keluar masuk dan menyediakan lokasi parkir untuk Fire Truck, Lakukan langkah pengamanan selama petugas pemadaman  bekerja memadamkan kebakaran dengan cara :
ü  Mengatur lingkungan sekitar lokasi untuk memberikan  ruang yang cukup untuk mengendalikan kebakaran,
ü  Mengamankan karyawan yang tidak bertugas dalam kebakaran.
ü  Mengamankan daerah kebakaran lantai tersebut dari kemungkinan tindakan seseorang misalnya mencuri barang-barang yang sedang diselamatkan diselamatkan, mencopet penghuni yang sedang panik, dll
ü  Menangkap orang yang jelas-jelas melakukan tindakan kejahatan dan membawanya ke pos komando




PENCEGAHAN KEBAKARAN

Pernahkah anda membayangkan dunia ini tanpa api? Api bila dapat dikontrol akan banyak kegunaannya, tapi bila sudah tidak dapat dikontrol lagi maka namanya menjadi kebakaran .
Setelah kita mengetahui pengklasifikasian, prinsip pemadaman dan perlengkapan pemadaman suatu kebakaran maka kita harus bisa mengelola kesemuanya itu menjadi suatu sistem manajemen /pengelolaan pencegahan bahaya kebakaran. Kita mengambil contoh dari pengelolaan pencegahan kebakaran pada bangunan tinggi. Identifikasi bahaya yang dapat mengakibatkan kebakaran pada gedung itu. Bahan Mudah Terbakar, seperti karpet, kertas, karet, dan lain-lain Sumber Panas, seperti Listrik, Listrik statis, nyala api rokok dan lain-lain

Penilaian Resiko
Resiko tinggi karena merupakan bangunan tinggi yang banyak orang
Monitoring
Inspeksi Listrik, Inspeksi Bangunan, Inspeksi Peralatan Pemadam Kebakaran, Training, Fire Drill / Latihan Kebakaran dan lain-lain
Recovery / Pemulihan
Emergency Response Plan / Rencana Tindakan Tanggap Darurat, P3K, Prosedur-Prosedur, dan lain-lain.

Pencegahan kebakaran adalah usaha menyadari/mewaspadai akan faktor-faktor yang menjadi sebab munculnya atau terjadinya kebakaran dan mengambil langkah-langkah untuk mencegah kemungkinan tersebut menjadi kenyataan. Pencegahan kebakaran membutuhkan suatu program pendidikan dan pengawasan beserta pengawasan karyawan, suatu rencana pemeliharaan yang cermat dan teratur atas bangunan dan kelengkapannya, inspeksi/pemeriksaan, penyediaan dan penempatan yang baik dari peralatan pemadam kebakaran termasuk memeliharanya baik segi siap-pakainya maupun dari segi mudah dicapainya.

TIPS MENGHINDARI TERJADINYA KEBAKARAN

Banyak musibah yang terjadi karena api. Contohnya kompor meledak, kemudian terjadinya percikan api pada kabel listrik. Kedua contoh tersebut sering terjadi di kehidupan sehari-hari masyarakat. Selain itu, penebangan hutan secara terus menerus yang membuat hutan gundul akan mempermudah terjadinya kebakaran hutan. Karena seringnya terjadi kebakaran, maka di tiap negara di dunia pasti ada dinas pemadam kebakaran dengan personil pemadam kebakaran, serta perlengkapan pemadamnya.
Untuk mencegah terjadinya kebakaran ada beberapa tips yang baik untuk kita lakukan, diantaranya:
1. Jangan membuang puntung rokok yang masih menyala sembarangan.
2. Hindari bermain dengan korek api dan barang sejenis yang mudah menimbulkan api.
3. Hindari penebangan hutan secara terus-menerus, karena pada waktu musim panas, hutan yang gundul akan mudah terbakar.
4. Jika memiliki peralatan yang berhubungan dengan api, misalnya kompor minyak atau kompor gas, kita harus rajin merawatnya.
5. Jauhkan barang-barang yang berhubungan dengan api dari jangkauan anak-anak.
6. Jangan mencuri listrik karena mungkin saja dapat menimbulkan arus pendek yang memunculkan percikan api.
7. Sediakan penyemprot air (hydran) sebagai langkah awal untuk memadamkan api jika terjadi kebakaran.
8. Tidak menumpuk barang-barang pada ruang tangga atau koridor yang dapat menghalangi jalur saran jalan keluar jika terjadi kebakaran.
9. Tidak menumpuk barang-barang yang sudah tidak berguna dalam gedung karena menambah resiko bahaya kebakaran yang tidak perlu.
10. Menjaga kotak panel listrik dalam keadaan bersih dan merapikan sambungan kabel yang sifatnya sementara menjadi permanen dengan cara mengisolasi sambungan.
11. Pada saat meninggalkan ruangan tidak membiarkan peralatan listrik seperti : computer, cd player, lampu meja, dll menyala atau tetap tertancap pada saklar listrik.

KESIMPULAN

1.      Kebakaran tidak akan dihapus dari muka bumi karena api merupakan bagian dari kehidupan. Kebakaran dapat dicegah sekecil mungkin bila kita memahami penyebab kebakaran dan langkah tindak pencegahan.
2.      Kebakaran dapat terjadi dimanapun, kapanpun pada siapapun.
3.      Pencegahan kebakaran merupakan langkah yang paling efisien, efektif karena dilakukan SEBELUM kehadiran api kebakaran sehingga kerugian harga benda dan jiwa dapat dihindari.
4.      Sarana Fire Protection (APAR, Hydrant, dll) yang tersedia akan tidak menghasilkan OPTIMAL bila tidak didukung OPERATOR yang trampil.
5.      Ketrampilan apapun hanya diperoleh dengan berlatih secara tepat + Konsistent !

Salam LKMD, Lebih Kurang Mohon Dimaafkan
Dari kami LPM, Lebih Pertama Memaafkan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar